107 views

2 Mantan Bupati Positif Covid Di Lapas

HARIANFOKUS.com – Penyebaran covid-19 di Lapas Rajabasa, Bandarlampung, kian mengganas. Setidaknya sampai Kamis (27-5) malam, telah 300 napi yang positif terjangkit virus mematikan itu. Termasuk dua mantan bupati yang tengah menjalani hukumannya karena tersangkut kasus korupsi.

Kedua mantan bupati yang positif covid-19 di Lapas Kelas 1 Bandarlampung itu adalah Andy Achmad Sampurnajaya, mantan Bupati Lampung Tengah, dan Agung Ilmu Mangkunegara, mantan Bupati Lampung Utara. Kedua mantan pejabat ini sejak dua hari silam telah ditempatkan di ruangan isolasi.

Dari 47 napi tindak pidana korupsi yang ada di Lapas Rajabasa, 24 diantaranya juga dinyatakan positif covid.

Menurut penelusuran, dari 10 blok yang ada di Lapas Rajabasa, Bandarlampung, sampai Kamis (27-5) kemarin, tiga blok telah dijadikan tempat isolasi bagi ratusan napi yang positif covid-19. Yaitu blok B-2, D-2 dan A-1. Diprediksi jumlah blok yang akan dijadikan tempat isolasi akan terus bertambah.

Saat ini, menurut sumber di Lapas Rajabasa, banyak kamar tahanan yang hanya dihuni 2 sampai 4 orang saja, karena yang lainnya sedang menjalani isolasi.

Sebagaimana diketahui, merebaknya virus covid-19 di Lapas Rajabasa ditengarai berasal dari tiga pegawai yang sebelumnya telah positif. Pimpinan lapas telah mengambil langkah sigap dengan melakukan tes swab terhadap ratusan tahanan yang ada. Namun, perkembangan pandemi covid-19 masih terus menggila. Dikhawatirkan Lapas Rajabasa akan menjadi klaster yang sangat berbahaya.

Beberapa keluarga napi mengaku sangat mengkhawatirkan kondisi keluarganya yang sedang menjalani hukuman.

“Jujur, yang kena covid dan diisolasi di rumah sakit aja banyak yang nggak selamat, gimana dengan yang di penjara. Kan pasti penanganannya nggak maksimal,” kata Farid, salah satu keluarga napi, Jumat (28-5) pagi.

Ia meminta Kakanwil Kemenkumham Lampung bergerak maksimal dengan meminta tim satgas covid-19 Lampung turun langsung dan terus memantau perkembangan napi yang positif covid-19.

“Para napi itu kan sangat terbatas perawatannya. Jadi perlu ada langkah-langkah ekstrem dalam penanganannya, agar lapas tidak menjadi klaster baru penyebaran covid-19,” lanjut Farid. (win)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *