21 views

Soal Profesor

“DEK, ngapain aja seharian di sekolah? Kan sudah lulusan?!” tanya Dinda begitu Gilang masuk rumah.

“Persiapan graduation, mbak! Kan nanti mau ada pelepasan buat siswa yang lulus!” sahut Gilang sambil standarkan motornya di garasi.

“Tadi mbak liat di wa group, kok adek tampil ke panggung pake toga gitu?” sambung Dinda.

“Adek ditunjuk ngewakili kawan-kawan dan harus tampil kayak profesor yang ngasih sambutan di graduation nanti, mbak! Makanya tadi pake toga! Keren kan?!” ucap Gilang. Nyengir.

“Ada-ada aja adek ini! Nyalahin adat istiadat dunia akademik tampil jadi profesor gitu itu, dek! Nggak bisa semaunya aja pake toga profesor itu! Ada tatanan akademiknya!” kata Dinda.

“Emang nggak bisa sembarangan ya mbak buat jadi profesor itu?” tanya Gilang.

“Nggak bisa sembarangan, dek! Banyak hal yang harus dilewati dulu! Banyak karya ilmiahnya dulu dan mesti dimuat di Scopus! Banyaklah persyaratan lainnya!” jelas Dinda.

“Emang apa aja syaratnya, mbak?! Lulusan SMP kayak adek gini nggak bisa ya langsung jadi profesor!” kata Gilang.

“Ya nggak bisalah, dek! Minimal harus lulusan S-3 alias doktor! Jadi pengajar atau dosen minimal 10 tahun! Belum lagi mesti menuhi kumulatif angka kredit alias KUM! Buat profesor madya KUM-nya minimal 850 dan profesor penuh wajib 1.000! Jadi ya nggak bisa semaunya aja nyandang gelar profesor itu!” urai Dinda. Panjang lebar.

“Oalah, gitu to ternyata rumitnya buat bisa tampil jadi profesor itu! Adek baru tahu ini, mbak! Lagian tadi kan cuma buat pentas pas graduation nanti doang! Nggak jadi profesor beneran kayak yang diatur di dunia akademik, mbak!”

“Iya, mbak juga paham, dek! Tadi mbak jelasin itu biar adek tahu kalau ngeraih gelar profesor itu nggak sak enak udele dewe! Walau kesukaan adek emang ngulak-ngulik udel!” ucap Dinda sambil tertawa.

“Tapi itu Ibu Megawati kabarnya jadi profesor, mbak? Kan dia bukan dosen! Nggak ngikutin adat istiadat dunia akademik juga! Kayak mana itu?!” sela Gilang.

“Kalau itu beda, dek! Itu gelar profesor sebagai penghargaan! Bukan profesor karena keilmiahan atau dedikasinya di dunia akademik! Ya boleh-boleh aja perguruan tinggi ngasih penghargaan semacam itu!” kata Dinda.

“Tapi kan muncul pro kontra akhirnya, mbak!”

“Pro kontra itu biasa aja, dek! Alamiah itu! Sunnatullah kalau bahasa agamanya! Sepanjang yang ngasih penghargaan gelar itu ikhlas dan yang nerima juga mau, ya nggak ada masalah! Ngapain kita jadi ikut riweh!”

“Dunia akademik kan punya fatsunnya sendiri, mbak! Nggak bisa semaunya gitu?!”

“Ya itu bener, dek! Tapi jangan lupa, sekarang ini dunia pendidikan itu subsistem dari dunia politik! Semua urusan terpusat pada gimana gerak dunia politik! Lagian bukan cuma Ibu Megawati yang nerima penghargaan gelar profesor gini, dek!”

“Emang ada yang sudah pernah dapet penghargaan profesor kayak gini ya, mbak?!” tanya Gilang.

“Adalah, dek! Yang mbak inget dua orang! Pak Ma’ruf Amin, wakil presiden, dan Pak Chairul Tandjung, bos besar Transmart sama Bank Mega itu!” kata Dinda.

“O gitu, jadi kenapa mbak tadi masalahin adek pake toga kayak profesor kalau ternyata gelar terhormat itu bisa dikasih ke orang diluar dunia akademik sebagai penghargaan?!” kata Gilang.

“Ya mbak tehenyak aja sih, dek! Pikir mbak, adek ini apa-apaan! Ngeritik yang lagi dapet penghargaan gelar profesor atau kebetulan aja!” jelas Dinda.

“Nggak bakallah adek berani ngeritik soal beginian, mbak! Kita kan tahu, Ibu Megawati itu pemegang kekuasaan terbesar di negeri ini! Apalagi adek sudah belajar pepatah Batak: bisuk songon ulok, marroha songon darapati!” ujar Gilang.

“Opo artine pepatah Batak itu, dek?!” sela Dinda.

“Cerdik seperti ular, bijak seperti merpati!” kata Gilang sambil tersenyum, dan langsung masuk rumah. Meninggalkan Dinda yang masih menelaah makna pepatah Batak tersebut. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *