56 views

Soal Vaksinasi

“MBAK, pantes aja Mama sama Buya nggak bisa-bisa ikut vaksinasi corona! Wong emang stoknya kosong kok sekarang ini!” kata Gilang pada Dinda di sela-sela makan siang.

“Kosong kayak mana, dek? Maksudnya stok buat vaksinasi warga sekarang nggak ada lagi, gitu ya?” sela Dinda.

“Ya nggak abis-abis banget pastinya, mbak! Tetep masih ada simpenan! Lagian faktanya vaksin yang dikirim ke Lampung bisa dibilang baru 25% dari yang dibutuhin! Wajar aja kalo beberapa hari ini banyak orang mau vaksin tahap kedua juga harus ketunda!” jelas Gilang.

“Emang berapa vaksin Covid-19 yang sudah dikirim, dek?”

“Kalo kata Sekdaprov Fahrizal Darminto, dari yang dibutuhin 6,6 juta dosis, baru 1,5 jutaan yang nyampe sini! Itu kan sekitar 25%-an dari yang dibutuhin, mbak! Jadi ya nggak usah heran kalo penanganan pengendalian Covid-19 sekadarnya aja selama ini!” kata Gilang.

“Kenapa bisa Lampung kayak nggak dianggep gitu ya sama pemerintah pusat, dek! Padahal satgas pusat kan tau persis perkembangan penambahan warga yang terpapar! Dan mereka yang netepin daerah ini jadi zona oranye atau merah!” ucap Dinda.

“Yang mbak tanyain itu sama dengan apa yang adek heranin! Kok bisa Lampung sampai sekarang cuma kebagian 25%-an dari jumlah vaksin yang dibutuhin?! Ini salahnya dimana?!” tukas Gilang.

“Kalo nurut adek, salahnya dimana?” tanya Dinda.

“Sudah jelas yang salah itu pimpinan Satgas Covid-19 Provinsi Lampung-lah, mbak! Apapun alasannya, dia yang harus tanggungjawab!” tegas Gilang.

“Siapa pimpinan tertinggi Satgas Covid-19 Provinsi Lampung itu, dek?” tanya Dinda lagi.

“Ya gubernur-lah, mbak! Siapa lagi? Jadi kalo ternyata sekarang terungkap baru 25%-an vaksin yang diterima dari pusat, semua rakyat bisa ngenilai kalo kinerja satgas ini nggak tersistem! Kalo nggak mau dibilang nggak jelas! Gerakan extraordinary yang jadi fatsun Presiden Jokowi itu nol besar realisasinya! Apalagi Satgas Covid-19 Pusat juga baru negor soal pembentukan satgas sampai tingkat kelurahan di Lampung yang nggak lebih dari 10% sampai sekarang!” urai Gilang.

“Kok bisa carut-marut nggak karuan gini ya, dek? Padahal kan alur birokrasinya jelas! Tata aturan dapetin kiriman vaksin juga jelas! Apa soal dana pembelian vaksinnya kali ya yang ngadat?!” kata Dinda.

“Kalo soal dana buat vaksin sebenernya nggak masalah, mbak! Selain pake dana APBN yang ratusan triliyun, kan setiap organisasi perangkat daerah di jajaran Pemprov Lampung selama ini juga dikenain recofusing! Yang kita nggak tau jumlah totalnya berapa dan buat apa aja!” sahut Gilang.

“Gimana biar urusan pengadaan vaksinasi buat rakyat Lampung ini cepet menuhi kebutuhan, dek?!” ucap Dinda.

“Mestinya anggota DPRD Lampung yang jumlahnya 85 orang itu buka suara, mbak! Pertanyakan soal-soal terkait pengendalian Covid-19 ini ke Gubernur! Jangan diem aja! Buat apa jadi wakil rakyat kalo dalam kondisi genting gini tetep aja cuma mikirin hidupnya sendiri!” ujar Gilang dengan suara bergetar. Geram.

“Mbak pesimis kalo ngarepin anggota Dewan mau ngungkap soal nggak jelasnya pengiriman vaksin ini, dek!” sahut Dinda dengan suara perlahan.

“Adek juga sebenernya pesimis, mbak! Tapi teteplah kita harapkan para wakil rakyat yang terhormat itu buat kerja! Nyingkap tabir kenapa vaksin buat rakyat Lampung kok baru dikirim segitu! Kalo perlu tanya langsung ke Satgas Covid-19 Pusat!”

“Kok langsung tanyanya ke satgas pusat, dek! Wong tanya ke satgas provinsi aja kali anggota Dewan kita jiper kok!” sela Dinda.

“Jipernya kali karena kalo nanya ke satgas provinsi bukan langkah strategis dan solusi yang didapetin! Tapi ucapan nada-nada tinggi yang lahir dari kepanikan, mbak! Maka nurut adek, baiknya ya tanya aja langsung ke satgas pusat!” kata Gilang.

“Adek optimis pimpinan satgas provinsi bisa ngeramu langkah-langkah taktis strategis biar kebutuhan vaksin buat rakyat ini segera terpenuhi?!” Dinda bertanya lagi.

Gilang hanya angkat bahunya tinggi-tinggi dan berdiri dari kursi meja makan. Membawa piring bekas makannya ke dapur. Dan langsung mencucinya sendiri. Merealisasi pesen Mama: yang abis makan, wajib bersihin piringnya sendiri. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *