45 views

Bicara Nostalgia

“DEK, kok semalem pulangnya larut bener, ngapain aja!” tanya Dinda pada Gilang.

“Adek kan abis main futsal di sekolah, mbak!” jawab Gilang.

“Masak main futsalnya sampe jam 10 malem! Nggak mungkin kan?!”

“Main futsalnya selesai jam 17.
30-an emang! Abis itu, adek ke rumah Ikhsan dulu!”

“Ngapain ke rumah Ikhsan?!” sela Dinda.

“Dia kan nebeng adek, mbak! Kami goncengan! Nyampe rumah Ikhsan, adek numpang solat maghrib sekalian!” kata Gilang.

“Terus abis itu?!”

“Ayahnya Ikhsan ngajak kami jalan-jalan!”

“Kemana..?” tanya Dinda.

“Keliling kota aja, mbak! Kan adek juga sudah pamit sih! Sudah bilang di whatsapp grup keluarga! Mbak nggak baca ya?!”

“Iya, mbak baca! Cuma pengen tau aja, adek kemana! Terus keliling kota itu ngapain Ayahnya Ikhsan itu?!” ucap Dinda.

“Ayah sama Mamanya Ikhsan juga, mbak! Jadi kami jalan berempat! Ya keliling kota aja! Katanya bernostalgia!” urai Gilang.

“Bernostalgia apaan sih, dek?!” sela Dinda lagi.

“Sepanjang jalan, Ayahnya Ikhsan cerita dulu awal tahun 1990-an suasana kota ini ya kayak semalem! Yang jalan-jalan besarnya gelep dan masih banyak pohon-pohon besar yang melegenda!” kata Gilang.

“Maksudnya jalan-jalan besarnya gelep itu apa, dek?!” tanya Dinda. Terheran.

“Semalem kan semua lampu jalan di jalan-jalan protokol dimatiin, mbak! Jadi suasana pusat kota gelep gitu! Kalo kata Ayahnya Ikhsan, kayak awal tahun 1990-an waktu dia masih pacaran sama Mamanya Ikhsan!”

“Lah, kenapa pula lampu-lampu penerang jalan dimatiin, dek! Emang aliran listrik PLN-nya diputus atau kenapa?!”

“Kata Ayahnya Ikhsan, itu salah satu cara Pemkot Bandarlampung mutus mata rantai penyebaran Covid-19, mbak! Kan kalo suasananya gelep, nggak banyak yang nongkrong-nonongkrong di angkringan atau cafe-cafe di pinggiran jalan protokol!” kata Gilang.

“Aneh-aneh aja ya cara yang dilakuin buat mutus penyebaran corona itu, dek! Mbak jadi ketawa sendiri! Apa iya kalo lampu penerangan jalan umum dimatiin, berkurang mobilitas warga? Apa iya virus corona nggak nyebar kalo suasananya gelap-gulita?” ucap Dinda sambil gelengkan kepala.

“Adek nggak paham kalo soal itu, mbak! Yang adek liat, karena jalan-jalan protokol gelep, Ayah sama Mamanya Ikhsan jadi sukacita gitu! Bernostalgia saat masih pacaran dulu! Keliatan bahagia bener mereka!” kata Gilang.

“Iya juga sih, dek! Pada setiap kejadian, pasti ada yang diuntungin dan dirugiin! Itulah hakekat keduniaan!”

“Dan jangan lupa, mbak! Di setiap kebijakan, pasti ada yang nyetujuin dan yang ngetawain!” sela Gilang. Menimpali.

“Kalo nurut adek, kebijakan matiin lampu jalan di jalan-jalan protokol dengan niat ngurangi mobilitas warga buat mutus penyebaran Covid-19 ini kayak mana?” tanya Dinda.

“Kalo adek ngenilainya positif, mbak! Karena adek liat sendiri, Ayah sama Mamanya Ikhsan seneng bener dengan suasana itu! Inget masa lalu dan bisa bernostalgia!” ucap Gilang.

“Maksud mbak itu kaitan sama urusan sebaran Covid-19 lo, dek?!”

“Adek sih ngenilainya oke banget cara matiin lampu jalan ini, mbak! Karena banyak temen adek yang pacaran sambil nongkrong di pinggir jalan! Kan jadi lebih asyik pacarannya!” ucap Gilang sambil ketawa.

“Kenapa nggak sekalian aja adek bilang: buat pelaku kriminal jadi lebih mudah beraksi karena suasana ngedukung! Gelap-gulita!” ketus Dinda. Juga sambil tertawa.

“Tapi, mbak! Terlepas dari candaan kita tadi, adek setuju sama kebijakan matiin lampu jalan ini!” lanjut Gilang. Kali ini dengan nada serius.

“Setujunya kenapa, dek?” tanya Dinda.

“Karena dengan cara ini setidaknya pemkot sudah jalanin apa yang diomongin filosof Romawi Kuno, Marcus Tullius Cicero! Salus populi suprema lex esto! Keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi bagi suatu negeri!” kata Gilang.

“Jadi begitu berartinya matiin lampu jalan itu ya, dek? Kenapa nggak semua jalan yang berlampu dimatiin aja sekalian! Jadi nyelametin seluruh rakyat yang ada di pinggir jalan-jalan itu! Nggak cuma jalan-jalan protokol aja!”

“Waduh, mbak! Adek nggak paham kalo sampe mau semua jalan berlampu dimatiin gitu! Nyatanya jalan protokol yang ada rumah dinas gubernur aja lampunya nggak dimatiin kok!” kata Gilang.

“O gitu, dek! Jadi tetep pilah dan pilih juga ya ternyata kebijakan ini?!” ucap Dinda.

“Ya gitu faktanya, mbak! Maka pas lewat Jalan Dr Susilo, yang ada rumah dinas gubernur, Ayahnya Ikhsan bilang ke Mamanya! Sayang ya, jalan dimana kita bersepakat nikah, nggak gelep kayak waktu itu! Jadi nggak lengkaplah nostalgia ini! Karena ada cerita cinta kita yang terpenggal!” kata Gilang menirukan perkataan Ayahnya Ikhsan.
Dinda dan Gilang pun akhirnya sama-sama tertawa. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *