92 views

Berlagak Patriotik, Istri Arinal Malah Salah Sebut Nama Mesin

HARIANFOKUS.com – Istri Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, Riana Sari menjadi pusat perbincangan. Lantaran dia salah sebut nama mesin yan digunakan untuk memisahkan plasma darah.

Ketua PMI Lampung itu menyebut alat yang digunakan untuk memisahkan plasam darah itu “sterile connecting devices” yang nantinya akan dibeli dari PCR Bank Lampung yang diklaim harganya mencapai miliaran rupiah.

Mestinya nama mesin itua adalah “Apheresis”, sementara yg disebut Bu Riana “sterile connecting devices” itu adalah prosedur penggunaan alat penghubung antar tabung (tube) yg steril, sejak pertengahan tahun 90-an prosedur ini populer disebut dgn STCD.

“Apheresis” adalah mesin yg mampu memisahkan trombosit (trombaferesis), eritrosit(eritraferesis), leukosit (leukaferesis) dan plasma (plasmaferesis) dalam darah.

“Dalam konteks donor plasma konvalesen, yang dilakukan “plasmaferesis” karena yang diambil plasmanya saja sementara yang lainnya dimasukkan kembali ke tubuh pendonor,” kata Pemerhati Pembangunan Lampung, Nizwar Affandi, Kamis (22-7).

“Harga mesin Apheresis per unitnya memang berkisar antara 1,1-1,2 miliar. Sementara harga STCD yg disebut Bu Riana hanya berkisar antara 65-70 jt saja per unit,” ungkap dia lagi.

Menurut Affan, Lampung memang sering banget ketinggalan, mulai dari mesin PCR Test di awal pandemi dan sekarang terulang lagi untuk mesin “Apheresis”.

Sejak Januari sudah ada 31 UDD (Unit Donor Darah) PMI yg memiliki mesin Apheresis, tidak termasuk UDD PMI Lampung. PMI Babel misalnya salah satu UDD yg telah memiliki Apheresis dan perlengkapan lain yg diperlukan untuk terapi plasma konvalesen.

“Apheresis memang membuat pendonor plasma konvalesen dapat kembali berdonor setelah 14 hari, tidak perlu menunggu selama 10 minggu untuk boleh kembali berdonor jika (dilakukan secara manual tanpa Apheresis).Tetapi tetap maksimum hanya diperbolehkan sebanyak 3 kali donor saja agar titer antibodi pendonor dapat dijaga,” jelas dia panjang lebar.

Dia berharap semoga dikemudian hari tidak terulang lagi tabiat buruk; “sudah basah kuyup tersiram hujan, baru sibuk mencari payung”. Mestinya sebagaimana provinsi-provinsi lainnya, “plasmaferesis” sudah bisa dilakukan di Lampung sejak Januari yg lalu bukan di akhir Juli baru sibuk berencana mendatangkannya.

“Diluar urusan salah sebut itu, bagi saya yang lebih menjengkelkan mengapa Lampung selalu terlambat dibandingkan provinsi lainnya? Dulu di awal pandemi kita ingat polemik soal mesin PCR Test, ketika Sumsel sudah ada 2 unit bahkan Sumut sudah 3 unit, Lampung baru mau menerima kiriman 1 unit. Sekarang terulang lagi di mesin Apheresis-Plasmaferesis, sejak awal tahun 2021 sudah ada 31 UDD PMI yg punya mesin ini, ternyata belum termasuk Lampung dan di akhir Juli ini setelah ledakan penyebaran terjadi barulah sibuk mau mendatangkannya,” tuturnya.

“Secara subyektif bagi saya itu sebuah keputusan terlambat yang tampaknya ingin dikemas secara dramatis agar terkesan patriotik. Tidak apa-apa walaupun terlambat daripada tidak sama sekali,” tandasnya.(HF)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *