37 views

Soal Ghosting

“NGOPO to mbak seharian di kamar aja? Mager yo?!” tanya Gilang pada Dinda saat bertemu waktu makan malam.

“Iyo, mbak lagi mager! Emang kenapa?!” sahut Dinda. Cuek.

“Yo nggak opo-opo, mbak! Lebih baik mager ketimbang keluyuran di tengah pandemi corona gini!”

“Kalo lagi nggak mager dan ada urusan penting ya tetep keluarlah, dek! Kan nggak semua urusan bisa diberesin dari rumah!” kata Dinda.

“Ya bener juga sih, nggak semua urusan bisa beres diatur dari rumah! Tapi kan nggak pas juga kalo keluar rumah sekadar ngelepasin diri dari beban! Padahal belum tentu diluar rumah, kondisinya lebih baik!” ucap Gilang.

“Maksudnya apa omongan ini, dek?!” sela Dinda. Merasa disindir.

“Adek baca di status fb mbak, kayaknya lagi kena ghosting ya?!” lanjut Gilang sambil nyengir.

“Sok tau adek ini! Emang kamu tau apa ghosting itu?!” kata Dinda.

“Kalo di dunia medsos, ghosting itu satu suasana dimana orang yang kita sukai ndadak ngilang! Kayak pergi tanpa pamit gitulah! Iyakan?!” kata Gilang. Lagi-lagi sambil nyengir.

“Kalo arti yang sebenernya apa coba ghosting itu?” tanya Dinda.

“Nurut kamus Bahasa Inggris, ghosting itu artinya berbayang! Benerkan?!” lanjut Gilang. Tertawa.

“Soal ghosting yang adek bilang itu bener! Mau bahasa medsos maupun arti asli Inggrisnya! Tapi sebenernya mbak nggak lagi ngerasa kena ghosting lo! Kesimpulan adek itu keliru!” ujar Dinda.

“Ya kan adek cuma baca dan coba ngenilai status dari fb mbak aja! Soal bener nggaknya, ya mbak sendirilah yang tau!” kata Gilang. Membela diri.

“Ya itulah, dek! Sekarang ini orang banyak ngenilai kondisi orang lain dari status-statusnya doang! Mau d fb maupun whatsapp! Padahal belum tentu realitanya begitu!” tutur Dinda. Kalem.

“Tapi pola ghosting versi medsos emang lagi ngetrend kok, mbak! Bahkan hari ini jadi trending topic!” kata Gilang.

“Apa itu, dek? Mbak nggak ngikutin perkembangan hari ini!” sela Dinda.

“Kan kemarin, Presiden Jokowi ngeluarin PP Nomor 75 tahun 2021, mbak! Ngerubah PP Nomor 68 tahun 2013 soal Statuta UI! Yang di PP baru itu rektor atau wakil rektor UI boleh ngerangkep jabatan diluar UI!” jelas Gilang.

“Iya, mbak paham soal itu! Terus kenapa, dek?! Dinda memotong.

“Seluruh anak bangsa kan paham kalo Presiden Jokowi sampe ngerubah PP itu karena Rektor UI, Ari Kuncoro, juga ngejabat wakil komisaris di BRI! Yang selama ini diributin berbagai kalangan karena ngelanggar Statuta UI!”

“Iyo, terus ngopo?” lagi Dinda memotong pembicaraan Gilang.

“Eh, hari ini Ari Kuncoro sang profesor itu bilang kalo dia mundur dari jabatan di BRI! Dia pengen tetep konsen jadi Rektor UI aja! Ini kan berarti Presiden Jokowi di-ghosting sama si Profesor Ari Kuncoro, mbak!” urai Gilang.

“O gitu, dek! Terlepas apapun nawaitunya, sikap Profesor Ari Kuncoro layak diacungi jempol, dek!” kata Dinda sambil mengacungkan dua jempolnya.

“Kok gitu, mbak? Langsung nggak langsung kan dia sudah nge-ghosting presiden! Mempermaluin Jokowi yang kemarin baru nandatanganin PP-nya demi nyelametin marwah sang profesor?!” ujar Gilang.

“Soal ada yang nganggep nge-ghosting atau maluin Jokowi, nurut mbak, itu soal lain, dek! Ada falsafah Batak bilang begini: jolma na burju marroha ima jolma na maila pambahenan dong songon nadidokna! Orang yang baik hatinya akan malu kalo perbuatan tidak sesuai dengan perkataannya! Jadi selayaknya kita tetep ngehargai sikap Profesor Ari Kuncoro! Ditengah krisis integritas para petinggi negeri, minimal dia masih punya malu buat nge-nuhanin jabatan!” tutur Dinda. Panjang lebar.

“Ternyata, ghosting itu bisa juga bernilai positif ya, mbak?!” ucap Gilang.
“Semua yang ada dan yang terjadi di bumi dan langit ini sesungguhnya bawa nilai positif, dek! Cuma seringkali kita amat terburu-buru nyimpulin ke arah negatif!” kata Dinda.

“Tapi faktanya kan banyak yang ngenilai ghosting itu negatif, mbak? Gimana dong?!” ketus Gilang.

“Semua kembali ke pribadi masing-masing, dek! Nggak boleh juga adek maksain sesuatu yang adek yakinin bener ke orang lain yang nggak sepaham!”

“Jadi slow aja ya ngeliat apapun perkembangan yang ada, mbak?!”

“Iya, slow aja! Tapi cermat, cerdas, dan tetep rendah hati, dek! Kalo kata Socrates: the only true wisdom is in knowing you know nothing! Satu-satunya kebijaksanaan sejati adalah mengetahui bahwa anda tidak tahu apa-apa!” ucap Dinda.

“Kalo adek jalani falsafah dari Mbak Edok Lamongan, mbak! Sluman, slumun, slamet! Walopun grubukan, tapi tetep selamet!” kata Gilang sambil tertawa ngakak. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *