29 views

Haji Son Nyindir: Apa Kalau Disegel, Pemkot Bangga..!

HARIANFOKUS.com – Silang sengkarut tempat usaha Bakso Sony dengan Pemkot Bandarlampung, Senin (20/9) mencapai klimaksnya.

12 gerai tempat usaha milik Haji Son yang di kalangan milenial disebut sebagai “Bakso Legend Lampung” itu, resmi disegel oleh aparat pemkot. Setelah beberapa bulan silam, 6 gerai lainnya dipaksa menutup pintu rapat-rapat tempatnya berdagang.

Selama ini, pemilik Bakso Sony, Haji Son, tak pernah mau menanggapi langsung “perseteruannya” dengan Pemkot Bandarlampung yang disebut-sebut terkait dengan urusan pajak.

Namun akhirnya, Senin (20/9) siang, Haji Son keluar dari pertapaannya. Didampingi penasihat hukumnya, pengusaha bakso yang sukses “mendagangkan” nama Bakso Sony identik dengan makanan ringan yang tak boleh dilewatkan jika ke Lampung ini, pun buka-bukaan.

Dengan gaya khasnya yang low profile, Haji Son terang-terangan mengaku tidak ada masalah sama sekali sekarang 18 gerai baksonya ditutup oleh Pemkot Bandarlampung.

“Saya sih seneng-seneng aja, nggak gelisah. Yang saya pikirkan itu karyawan-karyawan. Dibawah mereka kan ada keluarganya masing-masing,” ucap Haji Son dengan suara datar.

Meski mengaku tidak keberatan seluruh gerai Bakso Sony disegel karena dianggap melanggar peraturan, Haji Son sempat berucap bernada menyindir: “Apakah kalau disegel, pemkot bangga..?!”

Seperti diketahui, Senin (20/9) pagi, aparat Pemkot Bandarlampung menyegel 12 gerai Bakso Sony yang masih tersisa setelah 6 gerai lainnya telah ditutup sejak beberapa bulan silam.

Penyegelan terakhir dilakukan aparat pemkot pada Bakso Sony 1 dan 2 di Jalan Cut Nyak Dien, Jalan Imam Bonjol (Pasar Gintung), gerai di Jalan Pemuda (depan Mal Chandra Tanjungkarang), gerai di Jalan Raden Intan, gerai di Jalan Teuku Cik Ditiro (Kemiling), gerai di Jalan Pramuka, juga gerai Jalan Soemantri Brojonegoro (Unila), pun gerai yang ada di Jalan Gunung Rajabasa (Way Halim), gerai di Jalan Gajah Mada, gerai di Jalan Yos Sudarso, hingga getai yang ada di Jalan RE Martadinata.

Sebelumnya, sudah 6 gerai yang telah ditutup, yakni di Jalan Wolter Monginsidi, Jalan ZA Pagaralam, Jalan Endro Suratmin, Jalan Ratu Dibalau, Jalan Sultan Agung, dan Jalan Pangeran Antasari.

Apa yang akan dilakukan Haji Son melihat seluruh tempat usaha yang dirintisnya puluhan tahun itu kini ditutup paksa oleh pemkot? Pria bertubuh tambun yang selalu berpenampilan sederhana ini menegaskan jika dirinya tidak akan tinggal diam.

Haji Son secara tegas menyatakan sikapnya, yaitu akan mengambil jalur hukum atas tindakan Pemkot Bandarlampung yang menutup belasan gerai tempat usahanya.
Dalam jumpa pers, Haji Son juga menepis tudingan jika selama ini tempat usahanya telah mengemplang pajak.

“Setiap bulan saya merasa selalu membayar pajak. Mengenai penggunaan tapping box (alat pencatat pendapatan), itu selalu digunakan. Memang itu untuk makanan non-kemasan,” jelasnya.

Ia menambahkan: “Kita punya satu lagi mesin pencatat untuk audit internal, karena makanan kemasan itu pajaknya berbeda.”
Sayangnya, Haji Son tidak mau mengomentari isu pemindahan gerai bakso miliknya dari Kota Bandarlampung. “Kalau soal itu, dibicarakan nanti,” kata dia sambil tersenyum. (win)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *