74 views

Duka Karang Taruna Jelang Ultah

BULAN September merupakan bulan istimewa bagi pengurus dan nggota Karang Taruna (KT). Di bulan ini harusnya kaum muda KT ditingkat desa/kelurahan hingga nasional sedang disibukkan dengan berbagai kegiatan kreatif maupun rekreatif dalam menyambut ulang tahunnya (ultah) yang disebut Bulan Bhakti Karang Taruna (BBKT), yang puncak kegiatannya pada tanggal 26 September nanti.

Karena saat ini masih dilanda pandemi Covid-19, maka bentuk kegiatannya pun disesuaikan dengan mematuhi protokol kesehatan.

Di bulan September 2021, hanya beberapa hari menjelang puncak acara BBKT, Karang Taruna Lampung dihantam musibah dengan ditahannya AF, mantan Ketua Karang Taruna Kabupaten Lampung Timur oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat karena tersandung kasus dugaan korupsi dana hibah tahun 2018.

Berita ini spontan menjadi heboh dan menasional, karena kebetulan AF merupakan anggota legislatif dan menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lampung Timur periode sekarang.

Kasus ini bukan hanya menampar dan melukai para pengurus dan anggota KT yang masih aktif, tapi juga para mantan aktivisnya yang telah susah payah berjuang membesarkan organisasi di Provinsi Lampung ini.

Sebagai mantan aktivis KT yang merintis dari tingkat RT, kelurahan, kecamatan hingga akhirnya diberi amanah menjabat sebagai Sekretaris KT Provinsi Lampung, saya pun merasa jengkel bercampur malu, kok ada KT bisa bermain dana hibah yang nilainya cukup besar. Karena di era kami dulu, tidak pernah ada alokasi dana dari pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten/kota, khusus untuk KT. Semua bantuan kegiatan adanya di Dinas Sosial. Itupun dalam bentuk pelatihan dan bantuan peralatan seperti mesin jahit, las ketok duco, pertukangan, salon dan lainnya. Kalau mau mengadakan kegiatan kreatif maupun rekreatif terpaksa sum-suman dan mencari sponsor. Kami bekerja didasari semangat kesetiakawanan dan solidaritas serta jiwa sosial yang tinggi. Itulah sebabnya walau sudah puluhan tahun ‘pensiun’ dari organisasi, tapi persaudaraan kami masih utuh disemangati jiwa kesetiakawanan tadi.

Memang sih, belakangan ini masalah dan hibah sedang rame jadi bahan perbincangan, dan banyak yang sudah tersandung dan masuk bui. Dana hibah itu mirip seperti madu di tengah onggokan rumah tawon. Kalau tidak pandai bermain, bukan madu yang di dapat tapi justru diserang ribuan lebah yang bersengat.

Apa yang terjadi di Lampung Timur bisa menjadi pintu bagi institusi penegak hukum untuk masuk guna menelusuri dana hibah bagi organisasi KT khususnya dan lembaga yang lain di pemerintah kabupaten/kota maupun Provinsi Lampung. Jika ada, apakah dana tersebut benar-benar diperuntukkan bagi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan sosial, atau ada kepentingan lain (termasuk kepentingan politik).

Bagi aparat penegak hukum seperti Kejari atau Kejati, bukan hal yang susah untuk menguak semua ini. Bahkan sangat mudah, buka saja kotak rumah lebahnya, pukul-pukul sarangnya, hingga nampak semua dana hibah dan semua dana-dana turunannya.

Selama ini hanya terdengar silir-silir bahwa ada dana hibah yang nilainya miliaran rupiah, untuk kelompok masyarakat tertentu, untuk ormas ini dan itu, federasi ini dan itu, sementara penggunaannya belum tentu jelas. Contohnya yang terjadi di Lampung Timur.

Buat adik-adik Pengurus dan Anggota KT, tetaplah berjuang dan bekerja tanpa pamrih.
Salam “Aditya Karya Mahatva Yodha!!!”

Penulis : Gunawan Handoko (Tokoh Karang Taruna Lampung)

 

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *