Mati Rasa

BELAKANGAN, Dinda selalu tampak galau. Pembawaannya tak pernah stabil. Kadang mendadak bicara meledak-ledak, kadang hanya terdiam saat diajak bicara.

“Mbak ini kenapa ya, kok bawaannya galau melulu! Cerita dong, mbak?!” ucap Gilang selepas mereka makan malam.

“Nggak apa-apa, dek! Lagi bete aja!” sela Dinda dengan cuek.

“Betenya jangan lama-lama dong, mbak? Makanya cerita biar betenya nggak malah nimbulin penyakit!”

“Ah, sok tau aja adek! Ada kalanya kita bete dan galau karena ngadepin hal-hal yang nggak disangka aja, dek!”

“Memang kenapa ya, mbak?!” tanya Gilang.

“Waktu kawan mbak mau jadi ketua OSIS, mbak kan perjuangin bener dia, dan bersama teman-teman, mbak kampanyekan dia ke semua siswa-siswi! Akhirnya kan dia jadi pimpinan organisasi siswa di sekolah mbak!” Dinda mulai bercerita.

“Terus, mbak…?!”

“Nah, waktu dia sudah jadi ketua OSIS, ada temen mbak yang mau jadi ketua kelas! Orangnya bagus, prestasi belajarnya juga oke! Pembawaannya juga banyak diterima kawan di kelasnya! Dia juga selama ini jadi wakil ketua kelas, kan wajar aja kalo naik ke ketua kelas! E, temen yang dulu dibantu perjuangannya jadi ketua OSIS seakan nggak peduli! Dibiarinnya aja temen mbak yang dulu ikut merjuangin dia tetep jadi wakil ketua kelas aja! Nggak ada bener perasaan dia kalo temen itu dulu pernah membantunya!” urai Dinda.

“O, itu biasa, mbak! Banyak memang orang setelah pegang kuasa jadi mati rasa! Nggak ngehargain lagi orang-orang yang dulunya berkeringat membantu perjuangannya! Dia lebih asyik dengan teman-teman barunya yang mepet terus setelah dia punya kuasa!” kata Gilang.

“Memang banyak yang mati rasa kayak begitu ya, dek?!”

“O, banyak, mbak! Soknya aja waktu masih berjuang seakan-akan ngehargai dan butuhin orang! Begitu sudah pegang kuasa, apalagi dikendaliin sama teman-teman barunya, bisa dipastikan akan melupakan orang-orang lama yang dulu berdarah-darah demi memperjuangkannya!”

“Apalah ya perasaan orang yang kayak gitu itu ya, dek?!”

“Namanya aja sudah mati rasa, ya nggak ada perasaan itulah, mbak! Dia hanya akan terbuka matanya kalo orang sudah sibuk dengan mengorek-ngorek kelemahannya! Kalo orang sudah nabrak-nabrak dia! Dia anggep, yang tetap menjaga ketulusan dan kebaikan itu, nggak ada artinya!” tutur Gilang.

“Jadi, apa iya kita yang kemarin membantu perjuangan teman sampai jadi ketua OSIS harus berontak juga, dek?” tanya Dinda.

“Ya berhitung aja mulai sekarang, mbak! Biar yang mati rasa itu terbuka mata batinnya! Kalo perlu berontak, ya berontak aja! Kalo dengan omongan bisa merubah dia, ya nggak perlu berlaku yang mempermalukan, mbak! Masalahnya, sadar nggak temen mbak itu kalo sebenarnya dia sudah mati rasa! Karena sekarang ini, antara orang yang sadar dengan yang setengah sadar, susah menyimpulkannya!” kata Gilang sambil nyengir. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *