166 views

Drama Sang Tuan Tanah

MENYAKSIKAN pentas seni adalah kegiatan yang amat disukai oleh Dinda. Bisa dibilang, semua aktivitas bernuansa seni akan menggugahnya untuk menonton.

Pun kemarin malam. Mendengar ada pentas seni drama di Gedung Teater, Dinda sengaja menyisihkan kegiatan lainnya demi bisa menikmati atraksi seni budaya yang kian sedikit peminatnya itu. Ditemani Gilang, dia tak menyia-nyiakan pentas drama kolosal bertajuk; Sang Tuan Tanah.

Sepanjang acara, Dinda begitu hikmat memelototkan matanya. Menyatukan alam pikir dan batinnya pada episode demi episode. Sedang Gilang, hanya sesekali saja melihat ke panggung. Dia lebih asyik memainkan games dari android ditangannya.

Selepas menonton, sambil menuju pulang, Dinda bertanya pada Gilang: “Bagus kan dramanya, dek?!”

“Iya, bagus, mbak! Lumayanlah! Sedikit ngilangin penat!” sahut Gilang dengan santainya.

“Pas tampilan apa yang berkesan bagi adek?!”

“Apa ya, mbak? Semua bagus sih! Semua berkesan!”

“Ah, adek mah nggak pernah mau nikmati alur ceritanya lo! Dalam drama itu, ada pesan yang disampaikan, dek! Banyak hal berdimensi kemanusiaan yang diactionkan disana!” ucap Dinda.

“Iya, adek tau, mbak! Gimana arogannya sang tuan tanah! Sampai-sampai sekadar orang ambil rumput di tanahnya aja nggak dibolehin! Padahal itu rumput liar, yang tumbuh sendiri!” kata Gilang.

“Nah, itu adek tau? Berarti ikut nikmati juga ya?!”

“Ya iyalah, mbak! Walo adek nggak suka dengan drama, tapi kan adek nggak mau nyia-nyiain kesempatan dan waktu! Jadi ya mau nggak mau ikut nonton jugalah!”

“Selain itu apa yang berkesan bagi adek?!” kata Dinda.

“Banyaklah, mbak! Intinya, egoisme dan arogansi sang tuan tanah itu akhirnya membuat dia dikucilkan dari lingkungan para tuan tanah di negeri tersebut! Selain itu, tak ada warga sekitar yang mau disuruhnya memanfaatkan lahan tidurnya! Warga memilih bertani dan kerja paro panen dengan tuan tanah yang lain! Benerkan, mbak?!” tutur Gilang.

“Iya, bener, dek! Berarti adek tetep cermat ikuti alur cerita drama tadi! Kirain mbak karena adek asyik main games aja, jadi nggak tau cerita dramanya!” sahut Dinda.

“Yang adek nggak tau, apakah gaya sang tuan tanah dengan arogansi dan egoismenya itu masih ada di zaman sekarang ya, mbak?!”

“Tentu masih ada, dek! Nggak mungkin sutradaranya buat cerita kayak gitu kalo dalam kehidupan kekinian hal-hal semacam itu sudah tak ada lagi! Hanya mungkin, beda gaya aja! Menyesuaikan dengan perkembangan zaman!”

“Mbak bisa kasih contoh?” tanya Gilang.

“Kalo dalam cerita itu, sang tuan tanah kan bener-bener punya hak alas atas tanah ribuan hektare! Di zaman sekarang, tuan tanah itu dikonotasikan sebagai pemegang kekuasaan, dek! Walo ini salah kaprah, tapi kenyataannya begitu!” ucap Dinda.

“Misalnya kayak mana, mbak?!”

“Karena jabatan tingginya sebagai orang nomer satu di suatu wilayah, secara langsung atau tidak, dia melarang siapa pun untuk memasang apa saja yang berbentuk perkenalan atau adakan silaturahmi dengan warganya! Walo nggak pernah ada pernyataan resmi pelarangan, tapi sang petinggi itu sadar atau tidak mengubah dirinya bak tuan tanah! Seluruh wilayah kekuasaannya dianggap sebagai tanahnya! Seluruh apapun yang ada di tanah itu, adalah bagian dari miliknya!” tutur Dinda.

“Kok bisa kayak gitu ya, mbak? Kan pemegang kekuasaan tak selalu tuan tanah! Sebaliknya, seseorang yang dikenal sebagai tuan tanah tak harus memegang kekuasaan?!”

“Dunia ini sudah kebolak-balik, dek! Apalagi jika syahwat meraup kekuasaan sudah tak terkendali! Acapkali membuat orang lupa diri, lupa posisi, lupa akan segala hal! Dia bahkan lupa kalo perilakunya yang bak sang tuan tanah itu mendapat cibiran dari warga yang ada di daerahnya sendiri!”

“Sadar nggak mbak kalo justru orang itu terpinggirkan dengan perilakunya?!”

“Kalo mampu mengembalikan jati dirinya, ya dia sadar, dek! Masalahnya kan, geliat batin bak sang tuan tanah di zaman kolonial itu mengalahkan segala dimensi kemanusiaannya! Mungkin nanti dia akan sadar dengan sendirinya ketika ada pertemuan para tuan tanah yang sesungguhnya dan dia hanya bisa melihat dengan posisi duduk di pojok belakang!” ujar Dinda lagi. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *