13 views

Menimang Ketaatan

WAJAH Gilang kelihatan resah, kesal, dongkol dan tanpa senyum cool-nya. Dua jam lebih dia hanya bolak-balik disekitaran halaman sekolah. Sampai kemudian Dinda keluar kelas.

“Sori ya dek, nunggunya lama!” ucap Dinda sambil merangkul Gilang.

Dinda tahu persis, Gilang bete nunggu dia keluar dari kelas.

“Ya namanya ada tambahan tugas, dek! Mbak kan harus ikuti!” sambungnya meredakan kekesalan Gilang.

“Iya, enggak apa-apa kok, mbak! Adek cuma mikir aja, kok enak benar pak guru kasih tugas tambahan tanpa sebelumnya diagendakan! Mestinya kan enggak begitu, semua sudah tersusun rapih dalam sebuah perencanaan! Kalau tahu kayak gini kan adek bisa pulang duluan, adek sudah kelaparan ini, mbak?!” ketus Gilang.

“Iya, yang adek bilang enggak salah! Mestinya memang sudah diagendakan jauh sebelumnya! Tapi kadang kala ada hal-hal yang harus segera disikapi ketika situasi dan kondisi menuntutnya, dek!” jelas Dinda.

“Ya tapi tetap enggak elok aja, mbak! Kalau dadakan-dadakan kayak gini kan jadinya ada korban! Kayak adek ini, kan jadi kelaparan!” keluh Gilang.

“Adek, banyak hal dalam kehidupan ini yang sulit bahkan keluar dari yang kita rencanakan! Ada kegaiban-kegaiban alam yang terjadi diluar prediksi! Karenanya menjalani kehidupan itu jangan terlampau teoritis, terlampau keukeuh dengan keyakinan diri sendiri!”

“Mbak bisa ngomong begitu karena enggak ngerasain bete dan laper nungguin berjam-jam sih!” kata Gilang sambil masuk mobil menuju pulang.

“Mbak tahu rasanya, dek! Karena mbak juga kan pernah ngalami kayak gini! Tapi mbak nikmati saja, jadi enggak sampai bete!”

Wong buat bete kok dinikmati, aneh aja mbak ini!” sergah Gilang.

“Adek, kunci kenikmatan dalam hidup ini sederhana kok! Sabar, syukur dan tawadhu! Kalau bisa merefleksikannya dengan baik, insyaallah dalam kondisi apapun, kita akan nyaman-nyaman aja! Nyaman hati, pikiran dan kehidupan!” ucap Dinda.

“Enggak sesederhana itu, mbak? Susah sekarang ini buat sabar, apalagi kalau situasi seperti yang adek alami!”

“Enggak ada yang susah sepanjang kita menyadari hakekat kehidupan! Hidup ini indah bila kita tahu fatsun ketaatan, dek! Yaitu taat pada Tuhan, taat pada Rasul dan taat pada pemimpin kita!” kata Dinda lagi.

“Makanya mbak ikut aja agenda dadakan pak guru atas nama ketaatan itu ya?!” sela Gilang.

“Iya dek! Sebagai murid, ya para guru itulah pemimpin kita, jadi ya harus taat dengan mereka! Karena taat kepada perintah pemimpin itu merupakan dimensi kehidupan!”

“Gimana kalau gurunya bertindak zalim?!”

“Ya enggak usah dipatuhi, dek! Yang wajib ditaati itu pemimpin yang amanah! Ingat ya, pemimpin, bukan penguasa! Karena sekarang ini banyak yang berebutan menjadi penguasa, bukan pemimpin!” lanjut Dinda sambil memeluk Gilang yang belum reda bete-nya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *