19 views

Soal Gajah

“BEGITU nurutnya ya gajah-gajah itu, mbak! Wajar kalo banyak yang datang kesini pengen main dan naikinnya!” kata Gilang saat bersama Dinda melihat atraksi gajah di Festival Way Kambas, sore tadi.

“Emang ngagumin sih atraksi-atraksi gajah ini, dek! Hewan segede ini bisa nurut disuruh apa aja sama pawangnya! Bisa nyatu gitu dengan manusia! Ngedidiknya pasti nggak mudah! Cuma pawang hebat aja yang bisa naklukinnya!” sahut Dinda sambil terus memandangi hewan berbelalai itu tengah ditumpangi penonton berjalan keliling area yang sudah ditentukan.

“Coba gajah-gajah yang sering keluyuran ke kebun-kebun warga di Tanggamus itu dibawa kesini ya, mbak! Bisa dididik dan nambah banyak gajah terdidik di taman nasional ini!”

“Nggak mudah nangani gajah itu, dek! Sebagai hewan yang dilindungi, banyak aturan yang harus dipenuhi buat nanganinya! Apalagi buat nangkep dan ngebawanya ke taman nasional ini, biayanya besar selain mesti dapet izin sana-sini! Yang penting, warga di sekitaran lokasi gajah liar di hutan-hutan nggak ngeganggu mereka, semua ya aman-aman aja!”

“Emang gajah kalo ngamuk bisa ngebuat kacau ya, mbak?!” tanya Gilang.

“O iya, dek! Meski pada hakekatnya hewan ini punya sensitifitas tinggi terhadap lingkungan dan mudah bergaul tapi sekali ngerasa disakiti bisa ngamuk nggak karuan! Jangankan rumah, pohon-pohon besar dan tinggi aja bisa dirubuhin! Jinakinnya juga nggak mudah! Perlu pendekatan khusus, sentuhan-sentuhan yang pas, dan sodoran makanan yang emang mereka butuhin! Kalo nggak pas nanganinya, bisa-bisa malah ngamuk, dek!” ucap Dinda.

“Tapi ada yang bilang kalo gajah punya sifat ngehargai orang yang nggak ngeganggu dia ya, mbak?!”

“Iya, bener itu! Sepanjang diperlakuin dengan baik, gajah-gajah itu akan bersikap baik juga, dek! Maka di taman nasional ini gajahnya jinak-jinak! Bahkan mau ngangkatin warga yang pengen naikinnya! Tapi kalo diperlakuin nggak sewajarnya, ya ngamuk dia!”

“Ada nggak cerita soal gajah yang menarik, mbak?!” sela Gilang.

“Ada, dek! Suatu hari ada rombongan orang menaiki perahu! Ditengah lautan, perahu mereka dihantam ombak dan pecah! Beberapa diantaranya selamat, dan  terdampar di sebuah pantai! Mereka kehabisan bahan makanan! Lalu salah satu dari mereka ngajak temen-temen senasib itu bernazar!” Dinda bercerita.

“Apa nazarnya, mbak?!”

“Masing-masing bernazar, dek! Ada yang nazar mau puasa setahun kalo diselamatkan dari musibah itu! Ada yang nazar mau ninggalin kenikmatan dunia selamanya! Pokoknya semua bernazar! Sampai tinggal seorang yang masih diam! Belum nyampein nazarnya!”

“Lho, kenapa nggak mau nyampein nazarnya yang seorang itu, mbak?” tanya Gilang.

“Orang itu bingung mau nazar apa! Sampe kemudian, spontan dia bilang kalo nazarnya nggak bakal makan daging gajah selamanya!” kata Dinda.

“Terus, apa yang terjadi?!”

“Mereka yang terdampar tadi berpencar! Nyari sesuatu yang bisa mereka makan! Salah satu dari mereka berhasil nangkep anak gajah! Dipotonglah hewan itu dan dimakan! Tertolonglah kehidupan mereka yang terdampar di pantai tak dikenali itu!”

“Lha, terus yang tadi nazarnya nggak bakal makan daging gajah gimana, mbak? Makan nggak dia?!” sela Gilang.

“Nggak, dek! Dia keukeuh dengan nazarnya! Walo kelaperan dan badannya sudah lemah, dia tetep nggak mau makan daging gajah itu! Malam hari setelah itu ada kejadian mengerikan!”

“Apa kejadiannya, mbak?!”

“Serombongan gajah dewasa datang ke tempat mereka yang terdampar! Satu demi satu mereka dibauin badannya oleh gajah-gajah itu! Dan dibunuh dengan amarah tinggi! Tinggallah orang yang nggak makan daging anak gajah itu lagi! Dia sudah stres saat belalai gajah melilit badannya!” urai Dinda.

“Terus gimana, mbak? Ikut dibunuh dengan dibanting juga ya?!” kata Gilang, penasaran.

“Nggak, dek! Setelah dua tiga kali badannya dibauin, gajah besar ngedudukin orang itu dibadannya! Terus dibawanya jalan! Bahkan kadang, berlari! Kebayang kan gimana stresnya orang itu! Dia cuma bisa istighfar aja! Pasrah sama kehendak Yang Kuasa! Sampai akhirnya menjelang matahari terbit, gajah itu nurunin orang tersebut dengan cara yang lembut! Di sebuah tanah lapang yang luas!”

“Lanjutannya gimana, mbak?!”

“Setelah nenangin diri! Ucapin rasa syukur, orang itu jalan sekitar 2 kilometer, ketemulah sebuah perkampungan! Orang-orang di kampung itu heran, kok bisa ada orang baru muncul gitu aja! Ceritalah dia atas apa yang dialaminya!?”

“Luar biasa cerita ini ya, mbak?! Emang ada yang bener-bener ngalaminya ya?!” ucap Gilang.

“Cerita soal gajah ini emang banyak hikmah yang bisa kita petik, dek! Yang nyeritain pengalaman pribadinya ini bernama Ibrahim Al-Khawwash! Kalo adek pengen tau lengkapnya, baca aja di buku karangan Imam At-Tanukhi, berjudul Mukhtashar Al Faraj Ba’da Asy-Syiddah!” jelas Dinda.

“Hikmah apa yang bisa dipetik dari cerita soal gajah ini, mbak?!”

“Banyak, dek! Semua kembali ke pribadi kita aja gimana mampu memetik cerita ini! Karena masing-masing kita diberi akal pikiran dan perasaan buat mahami ayat-ayat Tuhan, termasuk keberadaan gajah!” tutur Dinda sambil menunggu giliran naik ke punggung hewan berbelalai panjang itu. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *