7 views

Bicara Kemalangan

“MALANG nian nasibmu, dek! Setiap kali main buat sekolah, selalu aja gagal! Nggak pernah jadi juara! Mana pulang-pulang kaki bengkak gini lagi!” kata Dinda saat Gilang masuk rumah selepas pertandingan sepakbola, petang tadi.

“Ya nggak malang alias sial juga sih, mbak?! Masih dapet piala walau juara 3! Namanya pertandingan, kan nggak selamanya menang! Juga nggak selalu kalah!” sahut Gilang sambil meringis menahan sakit di kaki kirinya yang bengkak membiru.

“Tapi emang nggak pernah kan adek main dengan tim sekolah jadi juara 1?! Kalo mainnya di klub, baru adek bisa juara 1?! Faktanya gitukan? Maka mbak bilang malang nian nasib adek kalo urusannya dengan sekolahan!”

“Biasa aja kok, mbak?! Adek nggak ngerasa sial! Toh sudah berbuat maksimal! Soal kalah menang itu biasa-biasa aja! Messi yang selalu bawa Barcelona jadi juara juga nggak pernah bisa bawa Argentina juara 1! Tapi dia enjoy-enjoy aja kok! Apalagi adek yang cuma pemain kelas kampung!”

“Iya sih, kalo ukurannya Messi, ya emang bener! Tapi kenapa kok selalu aja adek gagal bawa tim sekolah juara 1?! Ini yang mbak pengen tau?!” ucap Dinda.

“Penanganannya kali yang beda ya, mbak?!” sela Gilang.

“Maksudnya gimana, dek?!”

“Ya penanganan timnya yang beda! Kalo di klub kan disiplin tinggi, semua ditantang untuk bersaing dengan fair! Pelatihnya juga hebat! Nggak cuma ngerti bola tapi juga punya jiwa kepemimpinan yang bagus!”

“Emang kalo penanganan tim sekolah kayak mana, dek?!” tanya Dinda.

“Jauh dibandingin di klub, mbak! Latihan asal latihan aja! Perhatian dengan pemain kurang! Pelatihnya juga cuma tau teori, praktiknya kurang bagus! Ditambah arogansinya karena ngerasa dia juga seorang guru sedang kami murid!” jelas Gilang.

“O gitu, dek! Jadi saat melatih, nggak nempatin diri sebagai pelatih tapi tetep posisiin diri kayak guru ya?!”

“Ya gitu deh, mbak! Mana kalo diajak diskusi atau dikasih masukan, nggak mau! Malah marah! Jadi sebenernya kami yang main buat tim sekolah ini nggak enjoy! Kepaksa aja harus main!” aku Gilang.

“Berarti ya disitu masalahnya kenapa adek nggak pernah bisa bawa tim sekolah juara 1 ya?!”

“Dominannya ya itu faktornya, mbak! Padahal pelatih sendiri sering bilang pemimpin yang baik akan hargai anak buah yang berani nyampein kalo rencana sang pemimpin kali ini salah! Pemimpin yang baik nggak mau gagal! Jadi nggak akan benci dengan anak buah yang berani mengingatkan! Tapi kenyataannya, dia tentuin sendiri semua rencana pertandingan! Kalo diajak ngomong, langsung marah!” urai Gilang masih sambil menahan sakit.

“Oalah, gitu to dek! Kalo ngeliat tampilannya, pelatih itu kan baik orangnya! Perhatian! Sumeh juga!” kata Dinda.

“Jangan terlena dengan tampilan, mbak! Nanti kemalangan yang mbak terima!” kata Gilang sambil tertawa.

“Maksudnya…?!” ketus Dinda.

“Adek ngingetin aja kalo mbak jangan terpana oleh tampilan atau gayanya doang! Tapi pelajari juga kepribadiannya! Karena kemalangan yang sebenernya itu akibat terlalu cepatnya kita menilai sesuatu yang kenyataannya nggak sesuai dengan penilaian kita!” ujar Gilang.

“Sok ngerti kamu ini, dek! Baru kaki bengkak gini aja meringis kesakitannya nggak brenti-brenti! Pasang wajah melas lagi!” ketus Dinda.

“Adek ini orang kuat, mbak! Mampu ngatasi gimana rasa sakit ini jadi terasa nggak sakit!”

“Kok dari tadi meringis gitu kalo orang kuat dan bisa ngatasi rasa sakit?!” kata Dinda.

“Sebenernya aja ini ya, mbak?! Sejak tadi adek sudah pengen pipis!” kata Gilang sambil berlari terpincang-pincang meninggalkan Dinda yang cuma bisa mlongo. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *